Selasa, 06 September 2016

Tanpa Kata hanya gambar -YK-


Ini dimulai beberapa bulan yang lalu. Pertemuan yang amat sangat singkat, tanpa perkenalan, percakapan dan tatap muka. semua diluar keinginan.

Aku memulai semuanya untuk mencari pengalaman dalam perjalanan hidup ku yang aku sendiri merasa ini belum menghasilkan sepertiga dari seratus persen. Berinteraksi dengan wajah-wajah baru yang bukan hanya satu garis wajah, tapi berjuta. Disitu aku sadar, hati dan perasaan ini belum terbiasa dengan dunia luar. masih seperti anak ayam yang baru menetas dari telur.

hingga suatu hari, akhirnya aku masuk ke dunia mereka -para pekerja-  

Hari pertama aku lewati dengan biasa. layak robot, aku menjawab saat ditanya, melaksanakan saat diperintah, duduk dibalik layar dan semacam rutinitas keseharian para pencari selembar uang. tapi dari situ tulisan ini aku publikasikan.

Aku dan sahabat seperjuangan punya julukan sendiri untuk nya. "Kuadrat". dengan alasan tersendiri kenapa kuadrat menjadi nama panggilannya. tapi lucu, karena awalnya aku tidak perduli. bahkan sering berfikir sahabat-sahabat ku terlalu berlebihan saat "menyukainya". laki-laki yang dipanggil kuadrat itu terlalu "biasa" untukku. Yang dalam fikiranku, mungkin karena memilki paras menarik, tittle membanggakan, pekerjaan yang menjamin, dia menjaga jarak dari perempuan-perempuan yang tidak sejajar dengan nya. tapi kemudian aku sadar itu hanya pendapat baru yang belum mengenalnya. 
dan dengan sadar, waktu terus berjalan. 
semakin hari aku mulai paham sifat yang dimiliki "kuadrat".
baik, ramah, tapi dengan dia yang dikenal nya.
selain itu, aku tidak tau apapun tentang dia. kecuali seni nya dalam setiap kalimat yang dituliskan dalam akun sosial media miliknya. yah benar, aku mencari tau segala sesuatu tentang nya melalui dunia yang aku ikuti perkembangannya. 

Fotonya, kalimatnya, aku suka dengan apapun yang dia publikasikan. Yang tanpa sadar dari situ aku mulai memperhatikannya setiap kali bertemu. meski tak pernah jelas setiap kali melihat wajahnya, aku tidak perduli karena aku punya alasan. aku memperhatikannya bukan karena ketampanan wajahnya. tapi karena apa yang ada di balik wajah tampannya. 

Entah bagaimana cara kerjanya, semakin lama aku merasakan sesuatu yang tidak biasa dalam diri ku. 
Aku yang selalu ingin melihat dia, membayangkan hal-hal indah dengan aku dan dia sebagai pemeran utamanya, dan hal-hal konyol yang membosankan. Terus seperti itu bahkan sampai saat ini, dimana aku takkan pernah lagi akan bertemu dengannya.
 Iya benar, waktu ku untuk berada di dunia para pencari selembar uang sudah berakhir. dan saat-saat terakhir dimana aku menjadi seorang mahasiswa akan segera kembali, yang artinya aku tak akan pernah lagi bertemu dengan "kuadrat". 

Biarlah ini dikatakan apapun. Yang jelas, aku menyukainya karena kata-kata yang keluar dari hatinya, gambar-gambar indah yang dia hasilkan atas kerjasama luar biasa antara kamera dan kedua tangannya. 
Bagiku, menyukainya adalah suatu kesakitan dan kebahagiaan tersendiri. sakit itu pasti karena tak terbalas dan tak sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasi ku selama ini. tapi sakit itu hanya sesaat. dan kebahagiaan saat aku bisa menyukai laki-laki seperti nya adalah dia bisa menjadi motivasi ku untuk menjadi lebih baik lagi, menjadi perempuan menarik yang di dambakan.
Aku yakin,
Tuhan mempertemukan seseorang bukan tanpa alasan. dan alasan yang bisa kusimpulkan mengapa aku dipertemukan dengan nya adalah agar aku tak pernah merasa puas dengan apa yang telah aku miliki, tak pernah merasa apa yang aku inginkan harus selalu terpenuhi. 

dan sekarang, lembaran kisah tentang laki-laki yang kusebut "kuadrat" telah berakhir. Entahlah akan berlanjut lagi atau benar-benar berhenti sampai disini, itu rahasia Tuhan dan akan kuserahkan sepenuhnya pada kehendak Nya. Satu judul telah bertambah dalam memorie perjalanan hidupku, itu tentang dia. aku berdoa yang terbaik untuk nya, untuk semua yang berkunjung dihidupnya. 




Sabtu, 23 Mei 2015

aku rindu, Mom

 12 desember 2004

Pahatan hitam tergores indah diatas kayu.
Untuk pertama kalinya aku menangis melihat sebuuah hal yang kau sukai.
Aku selalu menyukai apapun bentuk tulisan.
Tulisan itu indah,
Terlebih dengan sebuah kalighrafi diatasnya.
Tapi ini tidak.
Nama terindah bagi ku, terukir diatas sebuah kayu halus berbentuk kubah masjid.
Pemiliknya?
Tengah terlelap dengan senyum yang terhias diwajahnya.
Aku seharusnya tersenyum melihatnya tersenyum.
Tapi ini tidak. Bahkan aku tak sanggup untuk melihatnya.
Keramaian menyeruak diantara kesedihanku.
aku masih anak-anak untuk terlalu mendalami apa yang seharusnya akan aku rasakan.
yang aku tau, hanya setelah ini aku takkan pernah melihatnya tersenyum membangunkan tidur ku.


Saat ini, 23 mei 2015

sudah lama aku menampung air mata yang seharusnya tidak harus ditahan.
aku hanya tidak ingin mengangguk saat dia meminta untuk keluar dari kedua mataku.
jujur, aku hanya ingin terlihat kuat
terlihat tegar. sebagai seorang wanita tangguh.
itu hanya bayangan.
nyatanya?
aku menyerah,
aku menangis dalam keramaian.
rasa rindu itu semakin kuat saat aku menahannya.
aku merinduannya. SANGAT
rindu ini terasa menyakitkan.
aku rindu
rindu dan rindu

aku yang saat ini menjadi menyerah dan kembali menjadi anak yang benar-benar menangis karna kerinduan pada nya. Aku iri dengan apa yang selalu aku lihat. aku iri saat ingin bercerita dengan dia yang ucapannya menghangatkan hati.

mah, aku rindu. datanglah dan tersenyumlah untukky meski hanya dalam mimpi. 

Selasa, 19 Mei 2015

Masih berjalan?

Apakah dia?
Apakah dia yang benar-benar aku cintai?
Hingga aku bisa mencintai nya walau kekurangan?
Hingga aku bisa bertahan,
Meski tak pernah dianggap ada?
Saat ini,
Aku seperti budak yang mengikuti bayangannya.
Nyatanya?
Entah berada dimana.
Akankah sanggup?
Bertahan dan terus bertahan.
Menunggunya hingga ia tau aku disini.
Masihkah aku tersenyum saat dia melihat ku?
Benarkah dia?
Benarkah dia yang mengisi hatiku.
Hujan, bisakah menjawabnya?
Angin, dapatkah memberi sebuah kode?
Bumi, tunjukkan semua itu, apakah bisa?
Diakah itu?
Yang saat ini aku cintai
Akankah dia yang aku cintai saat ini menjadi selamanya?

Itukah rasanya?

Aku, yang hanya duduk sendiri.
Kadang merasa damai dan tentram.
Tersenyum bersama hembusan angin dan sinar matahari yang menusuk wajah.
Namun,
Saat itu pula aku terdiam.
Keramaian menghampiri, bersama pasangan nya.
Aku hanya sendiri.
Tersenyum paksa, mengangguk meramaikan.
Kalian tau aku sedih?
Kalian tau aku ingin?
Kalian tau aku cemburu?
Bukan cemburu karna ingin.
Hanya cemburu dengan ketidak kuatanku menahan nafsu ini.
Aku ingin begitu, seperti kalian.
Tapi aku sadar aku tidak bisa. Aku terlalu lemah.
Aku bersembunyi dibalik senyum ini.
Menguatkan diri bahwa aku BISA.
Aku tau aku mampu, meski hanya sekejap.
Cinta? Itukah rasanya?
Kebahagiaan dan selalu penuh dengan kebahagiaan.
Seperti yang aku lihat saat ini.
Tertawa, dan menggeliat manja.
Aku bisa?
Bagaimana rasanya jika itu aku?
Sama kah?
Atau berbeda?
Itu kah rasanya?